Kenapa buah

Standard

Bukan penggemar buah sebelumnya.  Ya itulah aku.  Biasanya hanya sesekali aja makan buah itupun bukan buah yang biasa.  Maksudnyaaaa….bukan pepaya tapi sawo.  Bukan pisang tapi duren.  Pokoknya, bukan buah yang biasa dimakan sehari hari.

Sampai aku mulai aktif dan rutin lelarian. Aktifitas aku ini menuntut aku selain mulai hidup sehat untuk diriku sendiri juga untuk jadi panutan temen teman yang baru gabung untuk mulai lari.  Buah adalah salah satu dari cara hidup sehat dengan membuat seimbang asupan dengan serat selain sayuran. Katakan pisang misalnya.  Buah yang satu ini paling sering menjadi konsumsi saat lelarian.  Bahkan saat kita mengikuti acara lari pasti buah satu ini yang menjadi suguhannya.  Karena sudah diketahui manfaatnya bagi tubuh pelari. Atau semangka yang mengandung banyak ar sehingga juga menjadi sangat bermanfaat saat berlari.

Yah…akhirnya semua itu selain menjadi kebutuhan juga jadi kesukaan, karena ternyata buah bukan hanya sebagai varian makanan tapi juga bermanfaat bagi tubuh.

So..kenapa buah penting juga kita makan untuk membuat asupan kita seimbang?  Ya..kenapa tidak kalo kita tau manfaatnya baik bagi tubuh kita,  bahkan untuk diet sekalipun untuk yang membutuhkan program diet. Mau coba ?

image

 

DOEATAHUN

Standard

Wah..sekian lama gak ada kegiatan tulisan. Wah..wah…
Tercurah semua di media sosial ya. Ini juga yg mungkin bikin orang orang lebih demen buka gadget daripada blog ya.
Ah..sudahlah 😃
Pokoknya kegiatan berlari tidak pernah berhenti. Kegiatan posting juga jalan terus.  Tetap sehat ya. Nanti pasti bakal cerita cerita lagi. 😉

image

Push Your Limit

Standard

22 September 2014.   Adalah dokter Johny Sulistio yang menghubungiku meminta dukungan beberapa teman pelari untuk menemani, mendampingi beberapa orang dokter yang akan lari dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran Unpad. Jarak lari : 24 kilometer. Berlari dari Gedung Pendidikan Kedokteran jl. Eyckman no 38 mereka berencana lari menuju gerbang finish di kampus Jatinangor.

20140927_053704Dilepas oleh petinggi Fakultas Kedokteran Unpad, pukul 5.45 kami 20 orang mulai berlari ke arah garis finish yang mereka cita citakan.

Merasa bertanggung jawab karena aku seorang yang aktif di komunitas lari Indo Runner, aku menjanjikan titik berenti di setiap 5 kilometer perjalanan.  Tapi karena semangat garis start awal yang memang biasa terjadi, maka titik henti pertama  jatuh di kilometer ke 8. Luar biasa semangat para dokter ini.  Ngobrol, saling ledek bahkan ketawa ketawa masih terdengar selama 8 kilometer pertama ini.  Sedikit riweuh kami berada disamping mereka, karena lalu lintas mulai padat. Satu saja yang kami pikirkan, mereka harus tetap merasa nyaman untuk lari, dan aman.

20140927_061639(0)1 buah ambulance dan 3 buah mobil mengikuti rombongan kami, memastikan keadaan semua baik saja dan memastikan air minum selalu tersedia. Mereka yang lari boleh naik kendaraan bila sdh lelah, itu yang aku sampaikan ke mereka.  Tapi….sepertinya belum ada yang minat ikut mobil mobil itu hahahaha…

Kilometer selanjutnya, mataharinya luaaaaarrr biasa. Panas, kering, mobil seliweran. Semangat mereka belum surut.  Malah saya pikir, dari wajahnya terlihat lebih cape yang nyupir mobil deh, mengingat mereka harus mengendarai mobilnya dengan super pelan mengikuti kecepatan para pelari tangguh ini.

15 kilometer sudah dilalui. Kekhawatiranku tidak beralasan.  Semangat mereka mengalahkan apapun.  Mencoba ngobrol sambil berlari dengan beberapa dokter peserta lari, sekalian mengalihkan rasa cape yang aku tau sudah mulai menyerang, perbincangan menarik dan malah membuatku kagum dengan semangat mereka.  Ada juga peserta yang nampak selalu terburu buru berlari meninggalkan kelompok.  Bukan karena mau menunjukkan kemampuannya, tapi karena beliau tidak sabar ingin segera tiba mengingat  jadwal tugas operasi yang sudah menunggunya.  Aku ngikik tentu tanpa sepengetahuan beliau, karena aku tau..sejauh apapun dia tinggalkan kelompok ini, nanti dia pasti akan kembali lagi ke dalam kelompok..karena lari dengan kelompok inilah dan dari kelompok inilah semangatnya terpompa.

Seorang dokter sempat membuatku khawatir karena beliau baru tiba di Bandung dari tempatnya bertugas dan hanya sempat istirahat 1 jam saja sebelum lari pagi itu, beliau membuatku geleng geleng kepala untuk semangatnya yang tetap berlari walaupun diselingi berjalan cepat demi nama kelompok fakultasnya

Di kelompok komunitas lari Indo Runners, kami sering menyemangati..menggembirai teman yang baru melakukan lari full marathonnya yang 42 kilometer atau half marathon nya yang 21 kilometer. Tapi disini? Siapa peduli? Mereka hanya mau meramaikan acara dies natalis ini, demi nama fakultas kedokteran kecintaan mereka. Yang mereka tau hanya bahwa 21 kilometer yang ternyata 24 kilometer itu banyak…jauh…dan mereka mau lakukan. Jangan bilang itu gara gara saya yang mengiming imingi stop setiap 5 kilometer..kecepatan yang sangat penuh dengan toleransi dan janji akan ditemani terus sepanjang jalan. Aku rasa tanpa iming iming itu pun mereka akan tetap lakukan ini semua.

20140927_095710Stop setiap 5 kilometer perjalanan. Bahkan tiap 3 kilometer di kilometer akhir menjelang finish dan asupan air yang tidak pernah kurang sangat membantu.  Maklumlah..ini para dokter yg gak perlu diajarin lg soal hubungannya lari dan dehidrasi di tengah matahari Bandung yang ruaaaaaarrrrr biasa puanasnya seperti siang itu.

Menjelang finish, titik istirahat terakhir di gerbang masuk kompleks Universitas Padjadjaran.  Selain berfoto dan minum, semua bersiap untuk bisa finish dengan cantik.  Rapihkan barisan, rapihkan baju, rapihkan senyum dan kita lari lagi menuju gerbang finish di dalam kampus.

20140927_102244Sempat sedikit tertatih di tanjakan terakhir dalam kampus menjelang gerbang finish…semua tetap memiliki senyum yang bisa dipamerkan saat masuk gerbang finish.  Tepuk tangan para alumni lainnya dan para mahasiswa junior yang ada di area finish gate itulah pasti yang membuat mereka sangat antusias mencapai garis finish ini, sehingga saat digiring naik ke atas panggung untuk mendapat apresiasi dari yang hadir, semua pelari berwajah sumringah. Tak ada bekas kelelahan menempuh 24 kilometer di tengah teriknya matahari antara jam 5.45 sampai 10.35 siang itu.

20140927_114241Yah…terlewati sudah jalan sepanjang Eyckman – Jatinangor seperti yang dicita citakan para dokter ini. 24 kilometer panjangnya. Apa yang membuatku begitu semangat menceritakan ini kembali dan tak hentinya memberikan apresiasi ?

Karena dari 9 dari 12 orang dokter yang ikut lari ini belum pernah lari lebih dari 10 kilometer sebelumnya !  Dan ini terjadi hanya karena semangat.

Push your limit.  Memaksimalkan batas kemampuanmu, dikarenakan sebuah target pada diri masing masing mereka.

Bukan sesuatu yang harus ditiru, melakukan lari jauh tanpa adanya latihan.  Tapi sungguh..ini adalah sesuatu yang luar biasa yang mereka sdh lakukan untuk almamater tercintanya.  Hanya lari. Dan untuk itu aku acungkan jempolku.

Tetap semangat berlari ya dok..

Tetap cari targetmu masing masing.  Karena aku percaya..kalian lebih paham artinya sehat tentu.  Dan satu hal lagi…saya masih mau menemani lari lari kalian lagi kok…itupun kalo kalian masih membutuhkan saya sebagai running buddies kalian hahahahahaaa….

By the way…trimakasih krn sdh mengijinkan aku dan teman teman pelari mendampingi kalian dan mengalami ini bersama kalian. Sungguh sesuatu yg tak ternilai apapun. See you all next time..😉

#marilari #marisehat

20140927_102803

 

 

 

 

 

Kalian ada Di sana…

Standard

Dalam semua perjalanan kita, saya, apapun itu, pasti ada disana berdiri di belakangnya orang orang yang selalu menjadi pendukung kita. Entah apapun bentuk dukungannya. Bisa doa, perlakuan, atau bahkan hanya keberadaannya saja dalam diam yang bisa memberikan semangatnya untuk kita dalam melangkah.

Perjalanan luar biasa sepanjang Bandung –  Jakarta 178 kilometer lalu yang aku tempuh dengan berlari itu juga bukan semata mata perjalanan tanpa dukungan dari orang orang sekitarku.  Disebutkan atau tidak, mereka selalu akan berada disana untukku.

Belalakkan mata saat aku harus mengatakan bahwa aku akan melakukan perjalanan Bandung – Jakarta dengan berlari itu bukan hal aneh.  Tentu orang akan bertanya, apa sih yang di cari.  Apa sih maunya.  Apa apaan sih ?  Apa sih yang ada di kepalanya ?

Entah males nanya lagi, entah males kalo nanti aku balik ngomel, entah males liat muka asem aku, pertanyaan seperti itu hanya tinggal di benak masing masing tanpa dilontarkan.  Hanya wajah masing masing aja menyiratkan pertanyaan…hahahahahahaaa…

Hanya seorang dua orang yang dengan sungguh memberikanku masukkan masukkan sebagai tanda perduli dan dukungannya.  Semua seputar persiapan fisik dan mental.  Dan aku sangat membutuhkan itu. Terutama mental.  Orang orang terdekat yang diam tanpa bahasa justru yang membuat hati ini jatuh.  Sampai akhirnya ku mintai restu adik adikku sebelum aku berangkat waktu itu.  Sekedar minta didoakan supaya semua lancar, tapi pesan singkat yang menjadi balasan mereka ternyata mampu menjadi obat yang menyemangati semangatku yang sedikit turun waktu itu. ” you go sister, our prayer goes with you ” mampu membuat mataku berkaca di hari ke 3 menjelang keberangkatanku.

Teman teman Indo Runners ?  Jangan ditanya.  Mereka sangat antusias memberikan dorongan melalui pesan pesan di whats app.  Bahkan sampai ada yang menyempatkan diri mampir menemui di perhentian dan garis finish.  Semua itu membekaskan kesannya masing masing dan menuangkan semangatnya dalam porsi yang berbeda beda. Aku sangat menghargainya.

Tidak pernah disadari pengirimnya, text messages melalui whats app, bbm dan sms yang memberikan semangat berupa kata kata singkat mampu membuatku tersenyum setiap aku berada di titik istirahat. Bahkan ada lagu rohani dikirimkan untukku : ” agar bisa jadi doa yg kau nyanyikan di malam hari ” pesan dari pengirimnya.  Ini semua seperti obat yang selalu menyirami kelelahanku sepanjang perjalanan itu.

Puncak dari perjalanan ini adalah garis finish. Teriakan teman teman kenal ataupun teman yang kenal sebatas kenal di dunia maya. Applause peserta race sebelumnya di lokasi sama. Pelukan dari beberapa orang teman yang kita kenal. Semua jadi lebih nilainya.  Tapi lebih dari itu semua, pelukan dari satu saja orang yang memang kita tunggu, pasti nilainya tak akan ternilai dengan ukuran apapun dan tak akan pernah bisa terlupakan.  Mendengar suaranya dan raihannya ke dalam pelukan sebagai ‘finisher hug’ mampu membuat  bahagia dan bangga sebangga bangganya dan melupakan semua lelah setelah melakukan perjalanan 178k itu. Dan aku ada disana saat itu.  Di ambang  kedua rasa itu.

Yah…ini sebagian lagi dari yang bisa aku ceritakan tentang kalian…

Kalian yang sudah membantuku bukan dengan apa apa yang terlihat.  Tapi dengan spirit yang hanya bisa aku rasakan.

Bahkan kalian yang diam tanpa bicara, tapi menyelipkan namaku dalam doamu saat itu.

Kalian yang memberiku tanpa pernah aku minta untuk lakukan.

Yup…kalian.

Kalian ada di sana juga..

Kalian ada di dalam perjalanan 178 kilometer  Bandung – Jakarta

dan sekarang

Kalian ada di sini, di hatiku, trimakasih ya…

Love you….all

ps :  mama sayang kamu semata wayangku, semoga terselip bangga didadamu sedikit😉

178, Kilometer Luarbiasa

Standard

Sudah kubagi cerita ini disemua media yang bisa kubagi.  Tidak kurang facebook pun 2 note kutulis disana.  Dan masih ada kata yang bisa kutulis disini.  Bukan karena aku gila menulis.  Tapi karena memang aku tergila gila pada kisah perjalanan ini.

Ketika oom Surachman membagi cerita konsep tentang rencana ini Juni lalu, aku menyemangati beliau dengan antusias.  Semangatnya begitu luar biasa, dan konsepnya pun luar biasa.  Aku mengaguminya.  Tapi saat aku diminta untuk menjadi salah satu pelari yang ada di dalamnya, dalam team lari 178 kilometer Bandung Jakarta ini,  hatiku ciut.  Ini pasti salah.  Ini pasti ajakan basa basi secara aku salah satu penggerak komunitas lari di Bandung ini.  Aku berkelit dengan mengatakan nanti akan mencarikan pelari pelari yang bisa gabung.  Dihubungi kedua kali dgn bahasa yang tidak bisa membuatku berkelit lagi, aku minta beberapa hari untuk menimbangnya.

Aku berfikir keras. Dengan logika ku. Akan sanggupkah aku melakukannya.  Aku tidak mau melakukannya hanya untuk gaya gaya an dan malah berujung menyusahkan teman teman team lainnya. Selanjutnya aku coba menimbangnya tidak dengan logika.  Kutanya DIA.  Tuhan..apa nih ?  Tidak semua temanku bisa mendapat kesempatan seperti ini.  Kenapa aku ? …………… gak terjawab.  Hari kedua setelah itu jawabNYA : AKU yang akan mampukan kamu.  Gak percaya AKU ? Pergilah.

Mantap aku iyakan di telepon oom Surachman yang entah ke berapa kali dan pesan singkat Aris yang juga entah yang ke berapa kali. Sejak itu semua mengalir.  Tinggal 3 minggu lagi.

Latihan mulai dilakukan.  Persiapan fisik mulai diperketat. Nutrisi diperhatikan. Kita ber 25 orang ini saling mengingatkan. Luar biasa, kami mulai merasa harus saling memperhatikan satu dengan yang lainnya.  Ada perasaan bahwa kita satu team dan harus tetap begitu sampai di akhir nanti.

20140820_192155-1

The Team

Tetap saja aku khawatir, apakah aku akan dapat memberikan yang terbaik.  178 kilometer bukan jarak yang pendek.  Meskipun aku optimis dengan jadwal dan perencanaannya dalam mencapai seluruh kilometer itu, tetapi tak pelak lagi terkadang aku ciut melihat pengalaman teman temanku yang lain yang ada dalam team ini.  Membandingkan dengan pengalamanku sendiri yang entah hanya secuilnya saja dibandingkan mereka.

Hari berjalan terus sampai tibalah waktunya kami akan memulai perjalanan ini. 29 Agustus 2014 menjadi tanggal bersejarah untuk kami semua. Tak terbayangkan bahwa akan sebegini meriahnya Gedung Sate melepas keberangkatan kami.  Tak terbayangkan bahwa akan setumpah ini aparat mengelilingi kami.  Kami belum diberangkatkan, tapi jantung kami sudah berdegup kencang karena semua rasa yang campur aduk jadi satu. Kami belum diberangkatkan, tapi bergantian kami disalami bapak bapak itu karena dianggap luar biasa akan menempuh jarak itu dengan berlari.

Halah pak..jangan tanya kenapa bisa pak…wong saya aja gak ngerti kenapa mau kok…😛

Perhentian pertama di Mesjid agung Cimahi.  Disini kami akan makan siang dan menunggu teman teman yang akan menunaikan ibadah sholat jumat nya.  Luar biasa.  Sambutan warga, anak anak Sekolah dasar yang berdiri sepanjang jalan mendekati Mesjid Agung menyambut penuh antusias.  Entah dari jam berapa mereka bersiap disana.  Sempat bercanda aku bilang, kebayang kita lagi cengengesan dia Gedung Sate sementara anak anak ini mungkin sdh dibariskan walikelas nya di pinggiran jalan ini dengan bendera bendera kecil mereka, ah…kami tertawa sekaligus gak enak hati😀

IMG_2802

Saat masuk halaman Mesjid Agung Cimahi, satu wajah teman IndoRunners hadir di depanku.  Ah..ini luar biasa.  Dia hanya ingin memberikan semangat pada kami.  Dan dia bener bener sudah menyuntikkan energinya untukku.  Adalah Gammasinta yang tertatih tatih menggendong baby Freya mengejar kami masuk halaman Mesjid itu, dan Cahyo yang kabur dari kantornya hanya untuk mampir disana.

20140829_105051  Terlihat Freye bete krn harus ikut panas panasan dengan bundanya hanya untuk kejar tante Arie.  Mungkin nanti Freya bakal paham setelah bisa baca cerita ini …hehehe…

Berangkat dari Mesjid Agung dilepas oleh walikota Cimahi kami lari lagi menuju kilometer kilometer berikutnya.  Raja Mandala adalah pemberentian selanjutnya.  Disini kami sdh disambut dan dijamu lagi. Beristirahat dan kembali lari setelah semua menunaikan sholat magrib.

IMG_3203Hujan turun sangat deras menjelang ciranjang atau kilometer ke 40.  Dengan persediaan jas hujan yg sdh dipersiapkan, kami terus melanjutkan perjalanan kami.  Hujan yg deras, membuat aku…kami..tidak bisa menghindari genangan air dan air hujan unt tidak membasahi sepatu.  Dan ini yang aku takutkan.  Karena biasanya sepatu basah rentan mengakibatkan kaki lecet. Dan kekhawitan ku terbukti.   Kakiku mulai terasa  tergigit sepatu. Tiba di kilometer ke 40 aku minta team medik memeriksa kaki yang sakit dan ternyata kakiku lecet hingga berdarah.  Kedua kakiku. Ditangani dengan cepat oleh para medik, perjalanan bisa dilanjutkan tanpa sakit apapun lagi.  70  kilometer sudah kami lewati dan kita rehat di Cianjur.  Disuguhi hidangan dan nyanyian panggung, semua ini malah membuatku tidak dapat beristirahat karena bising.  Tapi ya sudahlah…dinikmati saja, karena toh tujuan mereka ingin memberikan kami apresiasi.

Melanjutkan perjalanan menuju titik istirahat selanjutnya Istana Cipanas yang seharusnya dapat ditempuh dgn mudah mengingat jaraknya yg sudah biasa kami lakukan.  Tapi ini menjadi tidak biasa mengingat kami baru start pk. 1.30 dini hari dengan rasa ngantuk yang sudah mulai menyerang.  Kedatangan kami di Istana Cipanas pagi itu maju satu jam dari jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya.  Sehingga kami bisa menambah jam istirahat kami disana.  Tapi tetap saja, jauh dari terlelap, aku malah wara wiri dan beres beres koper.

Sarapan, air mandi panas semua sangat aku nikmati. Sempat mendapat perawatan atas luka dan blister di kakiku dari pihak medik sebelum kita lanjutkan perjalanan, justru ini menjadikan aku memiliki semangat baru.

Puncak Pass, daerah sekitar Taman Safari dan masjid Baranangsiang Bogor  menjadi tempat isIMG-20140901-WA0030tirahat kami selanjutnya.  Artinya 115 kilometer sudah kami tempuh.  Kejutan diberikan bapak Walikota Bogor yang datang tanpa diduga ke ruangan istirahat kami malam itu.  Ini luar biasa.

63 kilometer lagi masih harus kami lewati.  Masih harus aku lalui.  Apa rasanya ? Semangat. Sakit ? Tidak.  Team medik dan terapist ini luar biasa menurutku.  Mereka dengan sigap selalu membantu saat kita membutuhkan bantuan.

Tiba di Museum TNI Satria Mandala pukul 5.30 semua mulai berasa deg deg an.  Justru 8 kilometer yang tersisa ini adalah puncak dari perjalanan kami.  Puncak dari perjuangan kami.  Gak ada lagi keinginan tidur atau istirahat.  Yang ada semangat untuk segera menyelesaikan perjalanan ini sampai tuntas.

Dengan kostum yang memang sudah dipersiapkan dalam rangka berjumpa dengan orang nomor satu Indonesia bapak presiden RI, lari 8 kilometer terakhir ini terasa sangat berat karena panas.  Mungkin juga karena semua lelah dan emosi sudah mulai memuncak sehingga memang semuanya terasa disini.  Aku yang sempat terseok seok karena kepanasan dengan air minum yang sudah habis.  Padahal ini hanya 8 kilometer.  Sempat hampir menangis karena merasa tidak ada yg mau menolong mencarikanku air minum.  Sampai munculah wajah wajah yang kukenal.  Teman teman Indo Runners bandung ! Mereka sengaja datang unt menunggui kami di finish !  Bergantian memberikan air dan isotonik, mereka hadir seperti malaikat penolong bagiku hahahaha  sayang kalian banget Mega, Adham en Booi !

IMG-20140903-WA0016

Menginjakan langkah terakhir di garis finish ternyata membawa rasa yang luar biasa.  Ada senang, bangga dan ada haru.  semua rasa bercampur jadi satu, panas seperti hilang entah kemana.  Kami berangkulan dan saling menyalami memberi selamat.  Selamat karena kita telah melakukannya bersama dengan penuh semangat dan tetap bersukacita hingga finish.  Kami langsung disambut oleh protokoler istana. Masuk satu tenda dgn bapak presiden untuk sarapan yang walaupun semua serba diatur cepat sehingga kami tidak sempat makan apapun kecuali minum, tapi aku setidaknya telah merasakan ada dalam satu tenda dengan orang kesatu di republik ini dengan suasana yg sangat santai.  Dan itu bukan hal yang biasa biasa saja…

Sama tidak biasanya dengan pengalungan medali oleh bapak presiden.  Dengan wajah berbinar satu satu kami bergiliran berdiri di hadapan beliau dan mendengar sedikit ucapan selamat dari nya dan bersalaman.  Sejenak pikiranku melayang…cucuku tentu akan bangga bila dia mengetahui hal ini kelak.

_81W0430Perjalanan telah usai.

Perjuangan sudah berakhir.

Lelahnya terbayar sudah.  Terbayar oleh gempita dan apresiasi yang begitu tinggi.  Saatnya kembali ke rumah.  Saatnya membagi cerita ini.  Saatnya membangun kembali prestasi prestasi lainnya.  Inilah kami, Fighting Long Runners yang tergabung dari entah apa…tapi aku percaya DIA lah yang menyatukan kami.  Dan inilah aku, seorang kakak bagi pelari pelari baru.  Tidak akan ada yang berubah dari kami, kecuali rasa persaudaraan yang makin kuat dan keinginan untuk bisa menularkan ini kepada teman pelari lainnya.

178, itu jumlah kilometer yang luarbiasa.

Terimakasihku untuk keluarga besar Indo Runners khususnya Indo Runners Bandung.  Kalian selalu menjadi bagian dari inspirasiku.

#marilari !

Kamu juga pasti bisa🙂

…bilik janji baru…

Standard

Taun Baru..

Malem menyambut taun baru kali ini memang beda dengan taun taun sebelom nya. Biasa bareng keluarga ato di rumah nonton kembang api..kali ini bareng temen temen keluarga lari Indo Runners yang sama sama ga ada acara. Lari..dandan sedikit…makan makan lucu sampe bubarnya jam 2.30 subuh aja.

Fun

Seneng

Banget

Dari taun ke taun..perayaan pergantian taun itu sebenernya hanya bikin kita lebih optimis aja sih buat ngadepin taun berikutnya. dengan segala janji perbaikan dan segala janji baru hihihihi..yang lagi lagi belon tentu sih bakal diinget lagi sebulan kemudian. Tapi…sebenernya itu menunjukkan ya..gimana manusia itu selalu sebenernya sadar unt sesuatu yg lebih baik unt hidupnya dan berharap semua bisa dapet kesempatan unt memulainya dari awal dan baru. Ya kan ?

Nah..artinya begitu juga aku donk ya.

Well….

Semoga sehat terus..semangat terus kerjanya..semangat terus dengan semua kegiatan yg udah kagok nyemplung dan kucintai ini..dan semoga cinta selalu ada dalam semuaaaaa yg aku lakuin ya…

Met taun baru ya buat kamu juga…apa janji barumu ?